A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 6B

 A. Ringkasan 10 Poin Penting

  1. Sumber pustaka merupakan fondasi utama karya ilmiah yang menentukan kualitas argumen dan integritas akademik.

  2. Jenis sumber pustaka terbagi menjadi tiga:

    • Primer (hasil penelitian asli),

    • Sekunder (ulasan atau interpretasi),

    • Tersier (alat bantu penelusuran seperti indeks dan bibliografi).

  3. Strategi membaca akademik meliputi skimming, scanning, previewing, membaca kritis, dan anotasi untuk memahami dan menilai isi teks secara mendalam.

  4. Analisis isi bertujuan menemukan ide pokok, menilai validitas, membandingkan sumber, dan mengenali struktur IMRAD (Introduction, Method, Results, Discussion).

  5. Pencatatan informasi dilakukan dengan parafrase, ringkasan, kutipan langsung, serta menggunakan alat bantu seperti mind map, outline, atau aplikasi referensi (Zotero, Mendeley).

  6. Integrasi sumber dalam penulisan ilmiah harus dilakukan secara etis melalui kutipan langsung/tidak langsung dengan format sitasi yang benar (APA, MLA, Chicago).

  7. Etika akademik dan anti-plagiarisme menjadi kunci menjaga keaslian ide dan tanggung jawab ilmiah dalam setiap karya tulis.

  8. Kemampuan membaca dan menganalisis pustaka membantu mahasiswa membangun karya ilmiah yang kredibel, logis, dan berdampak.

  9. Kesalahan umum seperti plagiarisme dapat dihindari melalui pelatihan parafrase dan penggunaan aplikasi referensi otomatis.

  10. Keterampilan literasi akademik yang kuat akan membentuk mahasiswa menjadi penulis yang cendekia, jujur, serta mampu menyusun argumen dengan integritas dan kejelasan.


B. PERTANYAAN PEMANTIK DAN JAWABANNYA

  1. Mengapa penting membedakan sumber primer, sekunder, dan tersier?
    Karena setiap jenis sumber memiliki fungsi berbeda dalam penelitian. Sumber primer memberi data asli, sumber sekunder memberi interpretasi, dan sumber tersier membantu menemukan referensi awal. Pemahaman ini mencegah kesalahan dalam penggunaan data dan meningkatkan validitas karya ilmiah.

  2. Apa perbedaan membaca akademik dengan membaca umum?
    Membaca akademik bersifat analitis, kritis, dan selektif untuk memahami argumen serta bukti ilmiah, sedangkan membaca umum lebih santai dan bertujuan mencari hiburan atau informasi ringan.

  3. Bagaimana cara menilai kredibilitas sebuah sumber pustaka?
    Periksa reputasi penulis, lembaga penerbit, tahun publikasi, jumlah sitasi, serta apakah sumbernya bersifat ilmiah (peer-reviewed). Sumber kredibel biasanya berbasis data dan referensi yang kuat.

  4. Apa saja kesalahan umum dalam mengutip sumber?
    Kesalahan umum meliputi tidak mencantumkan sitasi, salah menulis format referensi, terlalu banyak kutipan langsung tanpa parafrase, dan mengutip sumber yang tidak relevan.

  5. Bagaimana menjaga keaslian argumen saat mengutip banyak referensi?
    Dengan menyintesis informasi dari berbagai sumber menggunakan bahasa sendiri, menambahkan sudut pandang pribadi, serta memastikan setiap kutipan mendukung argumen utama tanpa menyalin secara literal.

C. PERTANYAAN REFLEKTIF DAN JAWABANNYA

  1. Sejauh mana Anda mampu membedakan sumber kredibel dan tidak kredibel?
    Saya sudah cukup mampu mengenali sumber kredibel melalui publisher akademik, jurnal bereputasi, dan kejelasan metodologi penelitian.

  2. Strategi apa yang Anda gunakan saat kesulitan memahami teks akademik?
    Saya menggunakan teknik skimming dan scanning untuk memahami konteks, kemudian membuat catatan poin penting atau mind map untuk mempermudah pemahaman.

  3. Bagaimana pencatatan informasi membantu struktur tulisan Anda?
    Pencatatan membuat ide lebih terorganisir, memudahkan pembuatan kerangka tulisan, dan memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat.

  4. Apa tantangan Anda dalam parafrase dan sintesis informasi?
    Tantangan terbesar adalah menjaga makna asli tetap utuh sambil menggunakan bahasa sendiri agar tidak terdeteksi sebagai plagiarisme.

  5. Bagaimana Anda akan mengubah kebiasaan belajar setelah mempelajari modul ini?
    Saya akan lebih disiplin dalam mencatat referensi, menggunakan aplikasi manajemen pustaka, dan membaca secara kritis agar tulisan saya semakin kuat secara akademik dan etis.


A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 4B

Jawaban Soal Isian

  1. Gaya bahasa ilmiah

  2. Logika

  3. SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan)

  4. Komputer

  5. Penulis / Kami

  6. EYD V

  7. Judul karya tulis

  8. Ambiguitas

  9. Grammarly

  10. Berkelanjutan


Jawaban Soal Esai

  1. Penggunaan kaidah bahasa yang tepat mencerminkan profesionalisme dan integritas ilmiah karena menunjukkan ketelitian, tanggung jawab, serta kejujuran penulis dalam menyampaikan gagasan ilmiah secara sistematis, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

  2. Lima ciri kalimat efektif:

    • Kehematan: Menghindari kata berlebihan.
      Contoh: “Mahasiswa belajar di kelas.”

    • Kepaduan: Unsur kalimat saling mendukung.
      Contoh: “Penelitian ini membahas pengaruh desain terhadap kenyamanan ruang.”

    • Kejelasan: Tidak menimbulkan tafsir ganda.
      Contoh: “Dosen memberikan tugas kepada mahasiswa tingkat akhir.”

    • Kesatuan: Mengandung satu pokok pikiran.
      Contoh: “Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi akademik.”

    • Logika: Susunan kalimat runtut dan masuk akal.
      Contoh: “Penulisan yang baik mempermudah pembaca memahami isi teks.”

  3. Huruf kapital digunakan untuk nama diri, awal kalimat, gelar, dan hari besar.
    Contoh: “Mahasiswa Arsitektur Universitas Mercu Buana sedang melakukan penelitian.”
    Huruf miring digunakan untuk judul karya atau istilah asing.
    Contoh: “Saya membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.”

  4. Revisi bahasa ilmiah penting untuk memperbaiki kesalahan struktur, ejaan, dan diksi agar tulisan menjadi lebih efektif dan kredibel. Langkah self-editing: membaca ulang, memeriksa tata bahasa dan tanda baca, menyesuaikan diksi, memastikan konsistensi gaya, serta meminta umpan balik dari dosen atau teman sejawat.

  5. Pemilihan diksi dan gaya bahasa memengaruhi kredibilitas tulisan karena bahasa yang formal, objektif, dan padat menunjukkan keprofesionalan dan keilmiahan penulis. Sebaliknya, penggunaan diksi emosional atau tidak baku dapat menurunkan kepercayaan pembaca terhadap isi dan kualitas tulisan.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 4A

Ringkasan Materi Pembelajaran 4: Kaidah Bahasa dalam Teks Akademik


Pendahuluan

Teks akademik dan ilmiah merupakan sarana utama dalam menyampaikan gagasan dan hasil pemikiran di lingkungan pendidikan tinggi. Kaidah bahasa akademik menjadi fondasi penting dalam menjaga kejelasan, objektivitas, dan kredibilitas karya tulis ilmiah. Menurut Prasetyo (2022), kepatuhan terhadap kaidah bahasa menunjukkan profesionalisme dan integritas penulis dalam menyampaikan argumen yang sistematis dan logis.


Isi

Teks akademik adalah tulisan yang digunakan dalam konteks pendidikan untuk mengomunikasikan ide secara ilmiah, sedangkan teks ilmiah merupakan bagian dari teks akademik yang disusun berdasarkan hasil penelitian dengan metode dan data yang dapat diverifikasi. Perbedaan keduanya terletak pada kedalaman analisis dan penerapan metode ilmiah: teks akademik bersifat konseptual, sedangkan teks ilmiah bersifat empiris.

Karakteristik teks ilmiah mencakup objektivitas, logika berpikir, konsistensi, serta penggunaan bahasa formal sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan EYD V (2022). Struktur teks akademik umumnya terdiri atas pendahuluan, tinjauan pustaka, metode (bagi penelitian), hasil dan pembahasan, kesimpulan, serta daftar pustaka. Prinsip penulisan akademik yang baik menuntut penggunaan kalimat efektif dengan struktur SPOK, diksi hemat dan tepat, serta gaya bahasa netral tanpa unsur emosional.

Literasi kritis berperan penting dalam menilai keabsahan informasi, memahami konteks teoritis, dan menulis dengan reflektif. Implikasinya, penulis dapat meningkatkan mutu tulisan, memperkuat kredibilitas ilmiah, dan menjaga etika akademik. Solusi peningkatan literasi akademik meliputi pelatihan berkelanjutan, penerapan modul berbasis praktik, serta pemanfaatan alat bantu digital seperti Grammarly, Turnitin, dan korektor daring (Jurnal Trunojoyo, 2023).


Penutup

Kaidah bahasa akademik tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis penulisan, tetapi juga mencerminkan etika, tanggung jawab, dan integritas ilmiah. Penguasaan tata bahasa, ejaan, dan gaya akademik yang tepat menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya ilmiah yang bermutu, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Daftar Pustaka

  • Prasetyo, A. (2022). Kaidah Bahasa dalam Penulisan Akademik. Jakarta: Pustaka Ilmiah.

  • Hasanuddin, N. (2022). Struktur Kalimat Efektif dalam Teks Ilmiah. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press.

  • Jurnal Trunojoyo. (2023). Umpan Balik dan Revisi dalam Penulisan Akademik. Madura: Universitas Trunojoyo.

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (EYD V). Jakarta: Kemendikbud.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 3B

Jawaban Soal Isian (10 Soal)

  1. Dunia pendidikan

  2. Kedalaman analisis

  3. Pendahuluan, isi, dan penutup

  4. Introduction, Methods, Results, and Discussion

  5. Opini pribadi

  6. Data atau referensi

  7. Plagiarisme

  8. Informasi atau argumen

  9. Eksposisi

  10. Pelatihan literasi akademik


Jawaban Soal Esai (5 Soal)

  1. Teks akademik digunakan untuk menyampaikan gagasan dan refleksi ilmiah dalam konteks pendidikan, sedangkan teks ilmiah berfungsi menyajikan hasil penelitian secara objektif dan terstruktur. Teks ilmiah memiliki format IMRAD dan berbasis data, sedangkan teks akademik lebih fleksibel dan argumentatif.

  2. Bahasa baku menjaga kejelasan, keseragaman, dan kredibilitas karya ilmiah. Contoh: “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif mahasiswa.” Kalimat tersebut formal dan efektif.

  3. Literasi kritis membantu mahasiswa menilai keabsahan sumber, memahami konteks tulisan, dan menghindari kesalahan berpikir. Dengan kemampuan ini, mahasiswa mampu menghasilkan tulisan yang argumentatif dan berdasarkan data valid.

  4. Prinsip utama meliputi kejelasan struktur, penggunaan bahasa baku, objektivitas, dan kejujuran ilmiah. Contohnya, mencantumkan sumber kutipan dengan benar serta menulis berdasarkan data dan analisis, bukan opini pribadi.

  5. Kemampuan ini meningkatkan kualitas penelitian dan pemikiran ilmiah mahasiswa. Jika literasi akademik tinggi, maka mutu pendidikan tinggi Indonesia akan meningkat karena mahasiswa mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara kritis dan etis.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 3A

Rangkuman Materi Pembelajaran 3

Mengenal Teks Akademik dan Ilmiah


Pendahuluan

Di era informasi, kemampuan membaca dan menulis secara kritis menjadi prasyarat keberhasilan di pendidikan tinggi. Teks akademik dan ilmiah tidak sekadar kumpulan bahasa formal, melainkan representasi pemikiran sistematis yang menghubungkan gagasan dan penelitian.

Isi

Teks akademik adalah tulisan yang disusun dalam konteks pendidikan untuk menyampaikan gagasan, refleksi, dan analisis secara sistematis (misalnya makalah, esai, laporan praktikum). Sedangkan teks ilmiah adalah tulisan yang memuat hasil penelitian secara objektif dan terstruktur (misalnya artikel jurnal, skripsi, laporan riset). Perbedaan utama terletak pada tujuan, tingkat formalitas, dan standar metodologis: teks ilmiah harus lebih ketat dalam tata metode dan etika publikasi dibanding teks akademik yang lebih fleksibel.

Karakteristik teks ilmiah meliputi: objektivitas, sistematis (mengikuti alur logis seperti IMRAD), bahasa baku dan teknis, berbasis data dan bukti empiris, serta konsistensi format (gaya kutipan, catatan kaki). Struktur teks akademik biasanya terdiri dari Pendahuluan (latar belakang dan tujuan), Isi (argumen, data, analisis), dan Penutup (kesimpulan dan rekomendasi).

Prinsip penulisan akademik yang baik antara lain: menggunakan bahasa baku, menghindari bahasa informal; mematuhi etika akademik (tidak plagiarisme); menyusun paragraf yang jelas dengan satu gagasan utama; menggunakan transisi antar paragraf; menyertakan kutipan langsung maupun tidak langsung secara konsisten.

Literasi kritis sangat penting dalam membaca dan menulis: pembaca perlu menilai validitas argumen, mengidentifikasi bias, mengevaluasi sumber, dan mengaitkan teks dengan konteks lebih luas. Penulis yang literat secara kritis dapat menghasilkan karya yang lebih kuat, orisinal, dan kredibel.

Untuk meningkatkan literasi akademik, diperlukan pelatihan literasi secara berkala, modul praktik menulis, penggunaan alat bantu (reference manager, pengecek tata bahasa), serta pembentukan komunitas penulis di lingkungan kampus.


Penutup

Memahami teks akademik dan ilmiah termasuk karakteristik, struktur, dan prinsip penulisan serta memiliki literasi kritis menjadi fondasi agar mahasiswa menjadi komunikator ilmiah yang unggul dan mampu berkontribusi terhadap perkembangan pengetahuan.


Daftar Pustaka

  • Damaianti, V. S., & Wahya, W. (2021). Membaca Kritis dan Kreatif untuk Mahasiswa. Rajawali Pers.

  • Mahsun, M. (2021). Teknik Menulis Karya Ilmiah: Dari Gagasan hingga Publikasi. Rajawali Pers.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 2B

A. Jawaban Pilihan Ganda

  1. B) Alat berpikir dan ekspresi intelektual

  2. C) Formal, objektif, dan presisi istilah

  3. B) IMRAD

  4. A) Artikel jurnal

  5. B) Berkurangnya kredibilitas karya ilmiah

  6. A) Program BIPA

  7. B) Menghindari plagiarisme

  8. C) Efektif dan padat makna

  9. B) Menulis makalah ilmiah

  10. A) Diplomasi kebahasaan


B. Jawaban Soal Isian

  1. Alat berpikir dan pengembang ilmu pengetahuan

  2. Istilah ilmiah

  3. IMRAD (Pendahuluan, Metode, Hasil, Pembahasan)

  4. Artikel jurnal

  5. Kredibilitas

  6. Plagiarisme

  7. BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing)

  8. Intelektual

  9. Teks ilmiah

  10. Identitas


C. Jawaban Esai

  1. Bahasa Indonesia menjadi sarana berpikir dan mengekspresikan gagasan ilmiah secara logis serta sistematis.

  2. Karena bahasa akademik harus jelas, objektif, dan tepat makna agar tidak menimbulkan tafsir ganda; contohnya penggunaan istilah ilmiah yang baku.

  3. Teks ilmiah berfungsi menyebarkan pengetahuan hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

  4. Dengan memperbanyak publikasi ilmiah, menciptakan istilah baru, mengembangkan program BIPA, dan memperluas kerja sama internasional.

  5. Tantangannya adalah dominasi bahasa asing, keterbatasan istilah ilmiah, dan rendahnya minat publikasi berbahasa Indonesia.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 2A

Rangkuman Materi Pembelajaran 2

Bahasa Indonesia sebagai Penghela Ilmu Pengetahuan

Peran Bahasa Indonesia dalam Ilmu Pengetahuan
Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana utama dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Melalui bahasa, gagasan ilmiah dapat disusun, disampaikan, dan dipahami secara luas oleh masyarakat akademik.

Ciri dan Fungsi Bahasa Akademik
Bahasa akademik memiliki ciri khas seperti penggunaan bahasa yang baku, formal, objektif, logis, serta presisi dalam pemilihan istilah. Tujuannya agar pesan ilmiah tersampaikan dengan jelas dan tidak menimbulkan makna ganda.

Teks Ilmiah dan Struktur Penulisan
Teks ilmiah meliputi makalah, laporan penelitian, artikel jurnal, maupun buku ilmiah. Umumnya menggunakan struktur sistematis seperti IMRAD (Pendahuluan, Metode, Hasil, dan Pembahasan). Bahasa yang digunakan harus mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia dan menggunakan istilah yang sesuai bidang ilmu.

Bahasa Indonesia sebagai Wadah Pengembangan Ilmu
Dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam kegiatan akademik, riset, dan publikasi ilmiah, maka bahasa ini menjadi penghela kemajuan ilmu di Indonesia. Penguasaan bahasa yang baik membantu mahasiswa dan peneliti menulis karya ilmiah yang berkualitas dan mudah dipahami.

Upaya Memartabatkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu
  • Penerbitan karya ilmiah berbahasa Indonesia.
  • Pembentukan istilah ilmiah yang sesuai kaidah bahasa.
  • Program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia ke dunia internasional.
  • Kolaborasi riset dan publikasi internasional dengan abstrak dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).
Tujuan Akhir
Diharapkan Bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang sejajar dengan bahasa internasional lainnya, sehingga berperan aktif dalam perkembangan pengetahuan global



A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 1A

Ringkasan Materi Pembelajaran 1

Memartabatkan Bahasa Indonesia sebagai Wahana Intelektual dan Ilmiah

Bahasa Indonesia berperan penting tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana berpikir, menalar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam dunia akademik, Bahasa Indonesia menjadi medium utama dalam penulisan karya ilmiah, penyebaran gagasan, serta pengembangan pendidikan dan teknologi.

1. Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia

  • Sebagai bahasa nasional: simbol pemersatu bangsa dan identitas nasional.

  • Sebagai bahasa negara: digunakan dalam administrasi, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

  • Sebagai bahasa ilmu: alat untuk menulis, berpikir kritis, dan menyebarkan pengetahuan.

2. Bahasa sebagai Alat Pikir dan Ekspresi Intelektual
Bahasa Indonesia menjadi sarana konseptualisasi gagasan, artinya bahasa membantu manusia menyusun, mengolah, dan menyampaikan pikiran ilmiah secara logis dan sistematis.

3. Bahasa Indonesia dalam Dunia Akademik
Bahasa Indonesia digunakan dalam penulisan jurnal nasional, skripsi, laporan penelitian, dan seminar ilmiah. Tantangan yang dihadapi antara lain dominasi bahasa asing dan keterbatasan padanan istilah ilmiah. Solusi yang dilakukan adalah pengembangan istilah baru serta peningkatan literasi akademik.

4. Teks Ilmiah sebagai Jembatan Ilmu
Teks ilmiah menghubungkan pengetahuan penulis dengan pemahaman pembaca. Ciri utamanya yaitu objektif, logis, jelas, dan mengikuti kaidah EYD serta PUEBI.

5. Upaya Memartabatkan Bahasa Indonesia

  • Mengembangkan istilah ilmiah sesuai kaidah bahasa.

  • Meningkatkan publikasi ilmiah berbahasa Indonesia.

  • Menyelenggarakan program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

  • Melakukan kerja sama riset internasional dengan abstrak bilingual.

6. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Ditegaskan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda 1928, dan ditetapkan sebagai bahasa negara dalam UUD 1945. Kini berkembang sebagai bahasa ilmu, hukum, pendidikan, dan teknologi.

7. Internasionalisasi Bahasa Indonesia
Melalui diplomasi kebahasaan, pengajaran BIPA di luar negeri, dan publikasi digital, Bahasa Indonesia semakin diakui di tingkat global sebagai bahasa ilmiah dan identitas bangsa yang bermartabat.

A31_Dadi Romadon_Tugas Mandiri 1B

A. Jawaban Soal Pilihan Ganda

  1. B) Alat Pikir dan Ekspresi Intelektual

  2. B) Dominasi Bahasa Asing dan Kurangnya Padanan Istilah Ilmiah

  3. B) Menghubungkan Pengetahuan Penulis dengan Pemahaman Pembaca

  4. B) Kepatuhan terhadap Kaidah EYD dan PUEBI

  5. C) Mengganti Bahasa Pengantar di Semua Sekolah dengan Bahasa Inggris

  6. B) Undang-Undang Dasar 1945

  7. C) Identitas Nasional

  8. B) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa)

  9. A) Pengembangan Istilah Baru yang Sesuai Kaidah

  10. B) Kedudukan Bahasa Indonesia yang Dinamis dan Multifungsi


B. Jawaban Soal Isian Singkat
  1. Pikir dan ekspresi intelektual

  2. Persatuan

  3. Ilmu pengetahuan

  4. BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing)

  5. Tata bahasa

  6. Membaca kritis

  7. Negara

  8. Pengembangan istilah ilmiah

  9. Publikasi ilmiah

  10. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia


C. Jawaban Soal Esai

  1. Bahasa Indonesia disebut wahana intelektual dan ilmiah karena digunakan untuk berpikir logis dan menyalurkan ilmu pengetahuan. Contohnya dalam penulisan skripsi, jurnal ilmiah, dan seminar akademik.

  2. Bahasa berperan penting dalam pembangunan ilmu pengetahuan karena menjadi media penyampaian dan pengembangan ilmu. Penguatan Bahasa Indonesia penting agar ilmu dapat diakses luas dan memiliki identitas nasional yang kuat.

  3. Tantangan pertama adalah dominasi bahasa asing; solusinya meningkatkan jurnal ilmiah berbahasa Indonesia. Tantangan kedua adalah kurangnya padanan istilah ilmiah; solusinya mengembangkan istilah baru yang sesuai kaidah bahasa.

  4. Bahasa nasional berfungsi sebagai pemersatu bangsa, misalnya digunakan dalam lagu kebangsaan. Bahasa negara digunakan dalam administrasi dan pemerintahan, misalnya dalam dokumen resmi.

  5. Generasi muda berperan penting dalam internasionalisasi Bahasa Indonesia dengan membuat konten berbahasa Indonesia di media global dan mengikuti program BIPA untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia ke dunia.

A31_Dadi Romadon_Tugas Terstruktur 3

EKSPLORASI TEKS AKADEMIK: KAJIAN NILAI, BAHASA, DAN PENALARAN


A. Pendahuluan

Latar Belakang

Kajian akademik dalam bidang arsitektur berperan penting untuk memahami perkembangan teori, prinsip, dan penerapan konsep arsitektur dalam konteks modern. Tiga jurnal yang dianalisis dalam laporan ini memiliki tema yang saling berkaitan, yaitu Kajian Elemen Arsitektur Modern berdasarkan Teori Vitruvius, Andra Matin: Kreativitas dalam Eksplorasi Material pada Karakter Arsitektur Modern, dan Kesenjangan Konsep dan Penerapan Gaya Modern Minimalis pada Bangunan Rumah Tinggal. Ketiganya menyoroti evolusi arsitektur modern dari aspek teori, kreativitas, serta praktik penerapan di lapangan.

Tujuan

  • Mengidentifikasi struktur dan ciri khas teks akademik dalam ketiga jurnal.
  • Menganalisis penggunaan bahasa akademik, termasuk objektivitas, kosakata, dan kejelasan.
  • Menelusuri nilai keilmuan serta dukungan teori dan data ilmiah.
  • Mengidentifikasi nilai-nilai kebangsaan yang tercermin, seperti nasionalisme, budaya lokal, dan etika akademik.

B. Metodologi

Pendekatan yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif melalui pembacaan kritis terhadap ketiga jurnal. Langkah-langkah eksplorasi meliputi:

  • Membaca struktur teks untuk mengidentifikasi unsur akademik (abstrak, pendahuluan, metode, hasil, kesimpulan).
  • Menganalisis gaya bahasa akademik dan pilihan kosakata ilmiah.
  • Menelusuri teori, konsep, serta data yang digunakan untuk mendukung argumen.
  • Mengkaji nilai-nilai kebangsaan dalam konteks arsitektur Indonesia dan budaya lokal.

C. Hasil dan Pembahasan

1. Struktur dan Ciri Khas Teks Akademik

Ketiga jurnal memiliki struktur akademik yang seragam, mencakup:

  • Abstrak bilingual (Indonesia dan Inggris).
  • Pendahuluan yang memuat latar belakang dan rumusan masalah.
  • Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dan studi literatur.
  • Hasil dan pembahasan yang sistematis.
  • Kesimpulan yang menjawab tujuan penelitian.

Perbedaannya terletak pada fokus:

  • Jurnal Vitruvius menekankan analisis teori klasik terhadap arsitektur modern
  • Jurnal Andra Matin menyoroti proses kreatif dan eksplorasi material dalam konteks modern tropis.
  • Jurnal Kesenjangan Konsep Modern Minimalis membahas perbedaan antara konsep teoritis dan implementasi gaya oleh pengembang Indonesia

3. Analisis Bahasa Akademik

Ketiganya menggunakan bahasa ilmiah dengan ciri:

  • Kalimat baku dan objektif.
  • Penggunaan kosakata teknis seperti firmitas, venustas, utilitas, kanal kreativitas, purisme, dan form follows function.
  • Referensi terhadap tokoh teori arsitektur (Vitruvius, Le Corbusier, Mies van der Rohe, Mangunwijaya).
  • Struktur kalimat kompleks namun tetap jelas dan logis.

Jurnal Andra Matin menonjol dengan diksi yang reflektif dan humanistik, menampilkan keseimbangan antara logika desain dan nilai budaya lokal. Sementara jurnal Vitruvius dan Minimalis lebih analitis dan teoritis.

3. Nilai Keilmuan

  • Kajian Vitruvius menunjukkan relevansi teori klasik dalam konteks modern, dengan dasar teori kuat dan analisis elemen arsitektur seperti struktur dan geometri.
  • Andra Matin memperkuat nilai ilmiah melalui teori Poetics of Architecture dan Kanal Kreativitas Anthony C. Antoniades, dengan dukungan wawancara empiris.
  • Kesenjangan Konsep Modern Minimalis berfokus pada kritik konseptual antara idealisme arsitektur modern dan praktik komersial, memperlihatkan pendekatan evaluatif yang kritis.

Ketiganya didukung oleh data literatur ilmiah dan studi kasus nyata, menunjukkan keabsahan metodologis dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu arsitektur modern.

4. Nilai-Nilai Kebangsaan

Nilai kebangsaan tercermin dalam:

  • Pelestarian budaya lokal, karya Andra Matin pada Katamama dan Masjid As Sobur menampilkan kearifan lokal dan material tradisional sebagai bentuk nasionalisme arsitektur.
  • Etika akademik, seluruh jurnal menggunakan kutipan dan sumber ilmiah yang sahih, menunjukkan kejujuran ilmiah.
  • Semangat kemandirian ilmiah, jurnal-jurnal ini mendorong interpretasi lokal atas teori global, menciptakan jembatan antara pengetahuan Barat dan konteks Nusantara.

D. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan

  • Ketiga jurnal memiliki struktur akademik lengkap dan mengikuti kaidah penulisan ilmiah.
  • Bahasa yang digunakan objektif, baku, dan memperlihatkan penguasaan kosakata arsitektur modern.
  • Nilai keilmuan kuat dengan dasar teori arsitektur klasik dan modern yang dipadukan dengan konteks empiris.
  • Nilai kebangsaan tampak dari keberpihakan terhadap budaya lokal, nasionalisme desain, dan integritas akademik.

Rekomendasi

  • Penulis jurnal sebaiknya memperluas kajian empiris melalui observasi lapangan agar hasil penelitian lebih aplikatif.
  • Integrasi teori arsitektur global dan kearifan lokal perlu diperkuat untuk membangun identitas arsitektur Indonesia yang modern namun berakar budaya.
  • Dalam pembelajaran akademik, ketiga jurnal ini dapat dijadikan referensi penting untuk memahami hubungan teori, kreativitas, dan penerapan arsitektur modern di Indonesia.

Mind Map



A31_Dadi Romadon_Tugas Terstruktur 2

Menggunakan Bahasa Indonesia Baku untuk Meningkatkan Kredibilitas Karya Ilmiah


Abstrak

Bahasa Indonesia baku adalah kunci penting dalam menulis karya ilmiah yang kredibel. Tanpa bahasa yang rapi, sesuai kaidah, dan konsisten, karya ilmiah sering dianggap kurang profesional dan sulit dipahami. Artikel ini membahas kenapa bahasa baku penting, apa saja masalah yang sering muncul, serta strategi penerapan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa maupun peneliti. Dengan mengacu pada Modul 1 Pendidikan Etik dan Anti Korupsi serta beberapa sumber ilmiah lainnya, tulisan ini menekankan bahwa bahasa Indonesia baku bukan hanya aturan kaku, melainkan cermin sikap ilmiah penulis.


Kata Kunci: bahasa Indonesia baku, karya ilmiah, kredibilitas


Pendahuluan

Bahasa adalah identitas kita. Dalam konteks akademik, bahasa berperan bukan hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ukuran integritas ilmiah seseorang. Seperti yang ditegaskan Alwasilah (2018:12)“Menulis adalah aktivitas sosial, di mana kualitas bahasa menentukan kualitas interaksi penulis dengan pembaca.”


Sayangnya, banyak mahasiswa masih menulis karya ilmiah dengan bahasa yang belum sepenuhnya sesuai PUEBI. Misalnya, terlalu banyak mencampur bahasa gaul atau bahasa asing, atau kalimat yang bertele-tele hingga susah dipahami. Padahal, karya ilmiah menuntut ketegasan, sistematika, dan objektivitas.


Oleh karena itu, menggunakan bahasa Indonesia baku bukan sekadar formalitas, tapi sebuah keharusan untuk menjaga kredibilitas karya ilmiah.


Permasalahan

Beberapa masalah umum yang sering muncul dalam penulisan karya ilmiah mahasiswa adalah:

  1. Bahasa gaul atau campur kode yang masih terbawa ke tulisan ilmiah.
  2. Kesalahan ejaan dan diksi, misalnya penulisan kata yang tidak sesuai KBBI.
  3. Kalimat yang panjang dan bertele-tele, membuat makna utama kabur.
  4. Minimnya referensi pedoman seperti PUEBI dalam penulisan tugas.
  5. Kurangnya pembiasaan menulis dengan bahasa baku sejak awal kuliah.


Pembahasan

1. Bahasa Baku sebagai Standar Ilmiah

Bahasa baku adalah bahasa yang memenuhi kaidah tata bahasa, ejaan, dan struktur yang sudah disepakati. Dalam dunia ilmiah, standar ini menjadi ukuran kualitas. Menurut Badan Bahasa (2016:5)“Bahasa baku adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, termasuk penulisan ilmiah, agar komunikasi berjalan efektif.” Dengan demikian, karya ilmiah yang ditulis tanpa bahasa baku akan kehilangan sisi profesionalitasnya.


2. Peran Bahasa Baku terhadap Kredibilitas

Menggunakan bahasa Indonesia baku memberikan beberapa keuntungan nyata:

  • Meningkatkan profesionalitas: tulisan tampak serius dan ilmiah.
  • Mengurangi ambiguitas: kalimat lebih jelas, tidak multitafsir.
  • Mendorong keterbacaan: pembaca lebih mudah memahami isi karya.
  • Memperkuat identitas akademik: bahasa Indonesia semakin mantap sebagai bahasa ilmu.

Seperti disampaikan Pramesti (2020:148) dalam penelitiannya, “Tulisan mahasiswa dengan bahasa baku terbukti lebih mudah dipahami pembaca dibandingkan tulisan dengan campuran bahasa sehari-hari.”


3. Tantangan di Era Digital

Kenyataannya, menjaga konsistensi berbahasa baku tidak mudah. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi mahasiswa:

  • Pengaruh media sosial yang membiasakan bahasa santai/gaul.
  • Dominasi istilah asing dalam literatur akademik.
  • Minim pelatihan menulis yang fokus pada aspek kebahasaan.


4. Strategi Penerapan

Untuk menghadapi tantangan tadi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Mengacu pada PUEBI dan KBBI setiap kali menulis.
  • Membiasakan menulis dengan bahasa baku di semua tugas kuliah.
  • Mengikuti pelatihan menulis akademik atau workshop kampus.
  • Menggunakan aplikasi pendukung, misalnya KBBI daring.
  • Dosen memberikan evaluasi bahasa, bukan hanya isi tulisan.


5. Ilustrasi Nyata

Sebagai contoh, ketika mahasiswa menulis kalimat: “Gue ngerasa penelitian ini tuh penting banget buat kehidupan sehari-hari.”


Kalimat itu tidak ilmiah. Dengan bahasa baku, seharusnya: “Penelitian ini penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.”


Perbedaan sederhana ini langsung menunjukkan tingkat kredibilitas penulis.


Kesimpulan

Bahasa Indonesia baku adalah pondasi utama dalam penulisan karya ilmiah. Tanpa bahasa baku, tulisan ilmiah kehilangan profesionalitas, objektivitas, dan kejelasannya. Dengan bahasa baku, penulis menunjukkan integritas akademik sekaligus ikut memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu.


Saran

  1. Mahasiswa sebaiknya rutin berlatih menulis dengan bahasa baku, tidak hanya saat menulis skripsi.
  2. Dosen dan perguruan tinggi sebaiknya lebih menekankan evaluasi kebahasaan dalam tugas-tugas ilmiah.
  3. Pemerintah dan Badan Bahasa perlu memperluas sosialisasi pentingnya bahasa baku di ranah akademik.


Daftar Pustaka

Modul 1 Pendidikan Etik dan Anti Korupsi. (2025). Universitas Mercu Buana.

Alwasilah, A. C. (2018). Pokoknya Menulis: Cara Baru Menulis dengan Metode Kolaborasi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Pramesti, N. (2020). “Kualitas Bahasa Ilmiah dalam Artikel Mahasiswa.” Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(2), 145–156.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Kemdikbud.




Mind Mapping